Rabu, 08 Desember 2021

Refleksi dan Tawaran Baru Dalam Filsafat "Integrasi Rasio dan Hati"

 Refleksi dan Tawaran Epistemologi Baru dalam Filsafat

"Epistemologi Baru: Integrasi Rasio dan Hati"


Oleh : Dewi Badrul Kharirotus Sifa 

126201212183 


   

    Pendidikan dapat dipandang sebagai unsur utama yang mengembangkan peradaban manusia. Hal ini menandakan adanya kebutuhan terhadap potensi intelektual manusia yang didikasikan untuk kemajuan peradaban disetiap zaman. Cara yang paling relevan untuk mengembangkan intelektualitas manusia adalah dengan pendidikan. Sayangnya, saat ini pendidikan telah terjebak dalam penyederhanaan pemahaman. Pendidikan modern telah secara aklamasi menyatakan bahwa pendidikan adalah proses kognisi atau setidaknya transfer informasi yang bersifat profan tanpa mengandung nilai spiritual. Sedangkan dalam banyak literatur Filsafat dikatakan bahwa kita tidak dapat memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan proses penyempurnaan jiwa manusia.

    Mengenai alat pencapaian pengetahuan, para pemikir Islam secara umum sepakat 

ada tiga alat epistemologi yang dimiliki manusia untuk mencapai pengetahuan, yaitu;  indera, akal, dan hati. Berdasarkan tiga alat tersebut, maka terdapat tiga metode pencapaian pengetahuan, yaitu: a) metode observasi sebagaimana yang dikenal dalam epistemologi Barat, atau juga disebut metode baya>ni> yang menggunakan indera sebagai pirantinya, b) metode deduksi logis atau demonstratif (burha>ni>) dengan menggunakan akal, dan c) metode intuitif atau ‘irfa>ni> dengan menggunakan hati. 

Epistemologi Islam 

    Epistemologi merupakan misteri yang tidak mudah dipahami kecuali melalui proses filosofis. Terma Epistemologi cukup menjadi perhatian para ahli filsafat namun dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Bukan hanya pemahaman ataupun mengenai pilihan kata yang berbeda, tapi juga subtansinya yang tentu saja merupakan pusat pemahaman makna dari sebuah konsep. Diskusi mengenai epistemologi harus dimulai dengan memperkenalkan definisi konsep atau makna secara teknis, untuk menangkap substansi masalah yang terkandung dalam konsep.  Epistemologi dalam sebuah sistem filosofis yang bersumber dari peradaban Islam dipandang sebagai instrumen rasional untuk memahami realitas yang tidak dapat dipisahkan dengan subjeknya sendiri. Inilah perbedaan mendasar yang memisahkan 

epistemologi barat dan epistemologi islam. 

    Yazdi menyatakan bahwa dalam diri manusia, semua dapat dipahami hanya jika dimulai dengan proses penegasan eksistensi di dalam dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan 

teorinya tentang pembagian pengetahuan yang bersifat presentative atau kehadiran eksistensial (dzati) dan pengetahuan representative atau pengetahuan yang kehadirannya membutuhkan perantara (Mafahim al-dzihni). Dari sinilah akar munculnya konsep tentang pengetahuan Intuitif (hudhuri) dan pengetahuan teoritis (husuli). Penegasan ini hanya berlaku jika seseorang yang melakukan tindak rasional itu sadar akan keberadaan dirinya. Proses untuk mengetahui semua hal di dunia luar bukanlah proses materi melainkan proses rasional yang abstrak yang tindakannya dilakukan oleh fakultas intelek manusia. Semakin material suatu objek, semakin sulit untuk dipahami.

    Kesalahan yang terjadi pada para saintis barat adalah karena mereka sebelumnya menilai bahwa indikator yang kompatibel untuk semua hal hanya material. Walaupun seolah menafikan konsep mental yang merupakan bagian yang inheren dalam diri manusia, sains barat masih menggunakan metodologi yang fungsinya untuk menemukan hukum paling umum dari suatu objek pengetahuan. Hal ini melandasi lahirnya postulat-postulat yang jika dianalisis tentu saja menyajikan konsep-konsep universal yang tentunya bukan bersifat material. Jika kita berpikir secara mendalam, realitas manusia itu sendiri bukanlah material, buktinya, kita tidak dapat memahami sesuatu yang bersifat materi tanpa proses abstraksi yang berarti kita mengekstraknya menjadi konsep universal yang menjadi tanpa massa dan ukuran. Kondisi ini hanya terjadi jika subjek dianggap sebagai entitas non-material.

    Epistemologi Islam dipahami sebagai jalan mencapai pengetahuan yang mempertimbangkan adanya realitas metafisik sebagai sesuatu di luar realitas material yang memiliki forma, kompleks dan terstruktur. Pandangan ini bersumber dari sifat akal itu sendiri. Epistemologi Islam tidak menafikan kemungkinan realitas eksternal atau dunia material itu sendiri, tetapi juga menetetapkan batas pada sifat dunia material itu sendiri yang tidak dapat dipahami tanpa aspek metafisik. Jika dilihat dari cara berpikir manusia, ada dua pola dalam memperoleh pengetahuan, yaitu cara berfikir rasional yang dikenal dengan rasionalisme dan berfikir berdasarkan fakta yang dikenal dengan empirisme, sehingga menurut Yazdi dengan menyadari kedua cara memperoleh pengetahuan ini, kita menemukan landasan yang kuat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang memiliki kerangka penjelasan yang masuk akal dan sekaligus mencerminkan realitas konkrit (materi) dan juga terhubung sumber transenden atau metafisik.

Epistemologi Para Filosof Yunani dan Romawi 

    Diskursus epistemologi dapat dilacak dari sejarah pemikiran para filosof Yunani kuno, yaitu Heraklitos (535-484 SM) yang berpendapat bahwa alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, dan begitu sebaliknya. Dunia ini selalu bergerak, tidak ada yang tetap, panta rhei, semuanya mengalir. Implikasi pernyataan ini mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak tetap. 

    Sebaliknya Parmenides (304-475 SM) berpendapat bahwa segala yang berasal dari penangkapan indera tidak ada yang layak disebut pengetahuan, dan bahwa satu-satunya pengetahuan sejati hanyalah berkaitan dengan konsep-konsep. Sedang pernyataan “salju berwarna putih” dianggap penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian. Plato (427-347 SM) lebih cenderung pada rasionalisme Parmenides. Ia berpendapat bahwa pengamatan inderawi tidak memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya selalu berubah-ubah. Plato tidak mempercayai kebenaran pengamatan inderawi dalam proses pencarian pengetahuan. Ia mengemukakan bahwa di luar wilayah pengamatan inderawi ada “ide”. Dunia “ide” bersifat tetap, tidak berubah-ubah dan kekal. Aristoteles (384-322 SM) menyanggah teori Plato dengan mengatakan bahwa ide-ide bawaan tidak ada. Kalau Plato menekankan adanya dunia ‘ide’ yang berada di luar benda-benda empirik, maka Aristoteles tidak mengakui adanya dunia seperti itu. 

    Hukum-hukum dan pemahaman yang bersifat universal bukan hasil bawaan dari sejak lahir, melainkan dari pemahaman yang dicapai lewat proses panjang pengamatan empirik manusia. Aristoteles mengakui bahwa pengamatan inderawi itu berubah-ubah, tidak tetap atau kekal. Tetapi dengan pengamatan dan penyelidikan yang terus menerus terhadap hal-hal dan benda-benda konkret, maka akal akan dapat melepaskan atau mengabstraksikan idenya dari benda konkret tersebut.

    Menurut Aristoteles pengetahuan harus selalu berisi kenyataan yang dapat diindera, yang merangsang budi kita kemudian diolah oleh akal pikir. Pada era hellenisme Romawi muncul Plotinus (205-270 M) yang berupaya memadukan atau melakukan sintesis antara ajaran Plato dan Aristoteles, tetapi pada prakteknya ia condong kepada Plato. Plotinus berpendapat bahwa Yang Satu adalah pangkal dari segala-galanya. Yang Satu adalah Yang Asal, Yang Sempurna, Yang Menjadi Sebab Pertama dari segala yang ada, dari Yang Satu mengalir menjadi wujud yang beragam melalui proses “emanasi”. Proses pelimpahan dari Yang Satu ini dapat dianalogkan dengan proses pancaran cahaya. Jadi, pengetahuan dapat diperoleh manusia melalui pancaran langsung dari Yang Satu atau Tuhan. Pemikiran ketiga tokoh filosof di atas (Plato, Aristoteles, dan Plotinus) merupakan representasi pola pemikiran filsafat yang berkembang secara menyeluruh di dunia Islam dalam bingkai ajaran Islam.

Integrasi Rasio dan Hati 

    Penawaran jalan epistemologi baru, yaitu mengintegrasikan rasio dan hati untuk menjawab kebutuhan Islam dengan misi  menyegarkan kembali pemikiran Islam yang mana ketika Islam terjadi  kemunduran dan kejumudan, sehingga harus diganti dengan corak pemikiran yang baru. Biasanya Salah satu sebab kemunduran itu adalah kemandulan intelektual di dunia Islam. Untuk itu, Sains bisa menjadi standar intelektual di zaman modern, termasuk agama. 

    Islam, dengan demikian, tidak boleh mengabaikan intellectual inquiry sebagai metode memperoleh pengetahuan. Sains modern harus diintegrasikan ke dalam Islam. Ketika formula ini dijadikan pijakan epistemologi maka akan muncul teori integrasi antara Islam dan sains, salah satunya melalui penafsiran al-Qur’an yang didasarkan pada temuan sains modern. Nursi mendefinisikan proyek ini sebagai ‘Miraj-i Qur’ani’. Ia menghadirkannya sebagai tawaran metode pemikiran di tengah pemikiran Islam yang telah ada, semisal sufi, filsafat (hikmah) dan ilmu kalam. Ia menganggap metode ‘Miraj-i Qur’ani’ lebih kokoh dibanding tiga pemikiran tersebut. Metode ini dapat menggantikan metode normatif dalam membaca al-Qur’an. Metode tersebut dapat menjadi standar untuk membaca al-Qur’an di zaman modern. Letak perbedaan antara metode yang ditawarkan oleh Nursi dan metode normatif adalah pada penggunaan temuan sains modern. Metode ‘Miraj-i Qur’ani’ mengintegrasikan temuan sains modern ke dalam tafsir al-Qur’an. Metode ini pada mulanya berangkat dari keyakinan Nursi tentang objectivity and universal validity of modern science. Artinya, sains selamanya dianggap benar. Sains diterima hampir tanpa kritik. Ia tidak menyadari bahwa penggunaan temuan sains modern dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dapat melahirkan masalah. 

    Seiring waktu, Nursi mengalami Kegelisahan intelektual yang akhirnya memicu kesadaran Nursi bahwa dirinya membutuhkan bimbingan spiritual. Menariknya, ia berguru kepada seseorang yang telah meninggal lewat karyanya. Saat membaca karya, Nursi mendapati satu tulisan yang berisi wejangan. Wejangan tersebut berisi perintah untuk memilih satu kiblat. Maksudnya, Nursi harus memilih satu guru saja. Setelah merenungi nasehat ini, ia memutuskan kiblat yang dimaksud adalah al-Qur’an.

    Pilihan Nursi pada al-Qur’an sebagai satu-satunya “guru”, senada dengan renungan imajiner Nursi tentang perbedaan filsafat dan wahyu. Perbedaan keduanya ia ibaratkan seperti sebuah perjalanan melalui terowongan yang digali di perut bumi. Terowongan ini digali oleh para filsuf Yunani dan para pengikutnya, seperti Plato, Aristoteles, al-Kindi, Ibnu Sina, al-Farabi, dan Ibnu Rusyd untuk menemukan jalan menuju ‘Realitas Tertinggi’ (h}aqîqah). Akan tetapi filsuf ini pada akhirnya menemui kegagalan. Mereka tetap terpenjara di dalam terowongan selamanya. Hakikat ‘Realitas Tertinggi’ dalam imajinasi Nursi tersebut diwakili oleh matahari—tidak mereka temukan. Sedangkan Nursi dengan menggunakan alat bantu seperti kompas dan lampu, berhasil menemukan jalan keluar, dan akhirnya menemukan matahari—yang menjadi simbol ‘Realitas’. Alat bantu tersebut adalah al-Qur’an. Jadi, hanya pada saat ‘filsafat’ melayani ‘wahyu’ sajalah kebenaran sejati dapat diraih. Karena itu, meskipun Nursi berusaha melakukan rekonsiliasi antara wahyu dan akal, ia tidak menyelaraskan agama dengan akal sebagaimana Muhammad Abduh, al-Afghani, Sayyid Ahmad Khan, dan pembaru Islam lainnya. Filsafat harus tunduk pada kebenaran wahyu, dan problem epistemologi dewasa ini adalah keengganan filsafat “bekerja” dibawah wahyu. 

    Jika masyarakat Muslim berpegang teguh pada al-Qur’an, maka dunia Islam akan maju. Agar mudah dipahami, ia menawarkan sebuah metode baru dalam membaca al-Qur’an, yaitu memilih temuan sains modern sebagai basis penafsiran tersebut. Adapun cara lain adalah dengan mempopulerkan al-Qur’an melalui metode rasionalisasi sebagaimana tokoh-tokoh abad 19 seperti Jamal al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. 

    Selain itu, fondasi epistemologi Nursi ini disusun untuk menjawab tantangan yang dilempar oleh kelompok penganut sains materialis, dan untuk menjawab mereka yang menentang Islam. Dengan menyatakan “jihad keilmuan”, Nursi sampai pada kesimpulan bahwa Islam harus ditafsirkan dengan cara baru agar sesuai dengan bahasa dan pemahaman para pendengar modern. Sains harus direngkuh, bukan malah ditolak. Nursi menginternalisasi wacana lawan-lawan intelektualnya untuk memperkuat dan menghidupkan kembali ajaran-ajaran dasar Islam, dan merespon dengan lebih efektif para pengkritiknya.

    Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa membangun epistemologi baru sebagai tawaran untuk umat Islam yang harus mengembangkan kembali peradaban yang tertinggal dari bangsa-bangsa Eropa. Perjumpaannya dengan pemikiran Renaisans Eropa dan sains modern mendasari terbentuknya epistemologi tersebut,yakni merekonsiliasi Islam dan sains menuju integritas. Sebagai langkah pertama, menentang Materialisme. Kedua, menempatkan al-Qur’an sebagai sumber ilmu tertinggi. Rasio di bawah otoritas Tuhan. Rasio harus tunduk pada wahyu. Dengan menjadikan metode sains tunduk pada prinsip dan cara pandang al-Qur’an maka dapat mengubah pemahaman sainsmodern atas alam semesta menjadi lebih sesuai dengan deskripsi al-Qur’an. Aktivitas sains yang dilakukan dengan semangat al-Qur’an menghasilkan tidak saja kebenaran dan observasi empiris tentang dunia objektif, tetapi juga pengetahuan tentang Tuhan. Hal ini mengubah sains menjadi bidang pengetahuan spiritual dan menjadikan studi sains sarana untuk beribadah.


REFERENSI : 


Asy’arie, Musa, Filsafat Islam, Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, dan 

    Perspektif. Yogyakarta: LESFI, t.th. 

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung: 

    Remaja Rosdakarya, 1998.


Rabu, 02 Oktober 2019

abstraksi kepahlawanan


“IBU KITA KARTINI SUMBER INSPIRASI WANITA”
Latar belakang:
            RA Kartini, beliaulah salah satu pahlawan wanita yang rela berjuang untuk rakyat Indonesia. Beliau merupakan pahlawan emansipasi wanita. Nama asli beliau ialah RA Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Beliau lahir di Jepara, 21 April 1879. Kepahlawanan beliau terlihat dari sifatnya yang sederhana, cerdas, dan pemberani.
Riwayat singkat:
            RA Kartini adalah wanita yang berpendidikan tinggi dan terdidik dari keluarga yang baik yang memiliki tekad untuk memuliakan dan mengunggulkan seorang wanita. Di masa beliau, memang wanita tidak dihargai, tidak boleh mendapatkan pendidikan yang layak, tidak boleh bekerja untuk membantu suami mencukupi kebutuhan. Wanita tugasnya hanya mengurusi rumah tangga, suami, dan anak di rumah, dan memasak. Kemudian RA Kartini berjuang agar kaum wanita tidak ditindas, tidak dipandang lemah, dan bisa disejajarkan dengan kaum pria lewat perjuangannya yang menyuarakan kebenaran. Sehingga, semua yang dilakukan beliau memberi arti yang sangat besar bagi kaum wanita Indonesia.
Nilai-nilai penting:
            Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa RA Kartini merupakan sumber inspirasi para kaum wanita untuk menjadi pribadi yang tekun,  pemberani, dan gigih. Kita bisa membayangkan jika dulu beliau tidak berjuang untuk kaum wanita, pasti sekarang wanita tidak boleh meraih pendidikan setinggi-tingginya,dan banyak kaum wanita yang dipandang buruk. Dengan demikian, kita bisa mengambil nilai-nilai kehidupan dari perjuangan RA Kartini, antara lain: mudah berbaur dengan banyak kalangan, selalu menghormati orang tua, menjadi optimis dalam melakukan apapun, memiliki tekad yang bulat, dan tekun dalam mengerjakan suatu hal.

Rabu, 18 September 2019

essay bertema pendidikan berbasis madrasah


Pentingnya Pendidikan Berbasis Madrasah
            Di Indonesia, banyak sekali pendidikan berbasis madrasah. Madrasah merupakan salah satu tempat untuk menimba ilmu, baik ilmu umum maupun agama. Dalam hal ini, menjadikan madrasah sebagai prasarana dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Di madrasah nantinya akan banyak  menjelaskan mengenai pengetahuan keagamaan  begitupun kegiatannya antara lain:sholat, mengaji setiap pagi, dan pelaksanaan  kegiatan PHBI.
            Sekarang ini, banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang berbasis madrasah. Di sanalah akan banyak mencetak siswa-siswi yang sholih dan sholihah. Jika bersekolah di madrasah  akan lebih mudah menuju masa depannya  karena pasti sudah membawa bekal ilmu pengetahuan yang cukup juga membentuk perilaku anak yang baik dan sopan.
            Belakangan ini, banyak orang yang menyepelekan pendidikan di madrasah. Menurut pandangan orang lain, jika bersekolah di madrasah (aliyah) dan  lulus dari sana akan sulit mendapat pekerjaan karena tidak bisa langsung terjun ke lapangan pekerjaan juga belum memiliki pengalaman kerja yang cukup. Terkadang ada pula yang membanding-bandingkan sekolah yang berbasis madrasah dengan sekolah umum dari segi kualitas pendidikannya.
            Padahal jika dilihat-lihat banyak lulusan madrasah yang tidak kalah karirnya dengan lulusan  sekolah lain. Misalnya, sekarang ini banyak lulusan madrasah yang meneruskan ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Juga banyak pula para pejabat tinggi dan orang-orang terpandang lainnya yang merupakan lulusan dari madrasah. Itu karena dulunya beliau bersekolah dengan sungguh-sungguh dan tidak memperdulikan perkataan orang lain yang menganggap buruk sekolah yang berbasis madrasah. Jadi, jika kita bersekolah di madrasah dan bersekolah dengan serius, rajin, menghormati guru, dan bertawadhu’ kepada guru, insya allah pekerjaan akan datang dengan sendirinya.
            Maka dari itu, jika ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, carilah tempat untuk menambah ilmu yang sekiranya baik, misalnya sekolah yang berbasis madrasah. Agar nantinya bisa menjadi generasi muda yang berbudi pekerti luhur dan baik, serta berakhlaqul karimah. Gapailah ilmu setinggi-tingginya supaya nanti bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan ilmunya dapat dijadikan bekal di akhirat kelak.
Semoga bermanfaat



Selasa, 27 Agustus 2019

peradaban islam


Beginilah Peradaban Bangsa Arab sebelum Islam Datang
Pada masa sebelum kedatangan Islam di Arab dikenal dengan zaman jahiliyah. Periode jahiliyah ini dalam Islam, adalah masa yang tidak mengenal agama tauhid yang membuat moralitas mereka menjadi minim.
Pada saat itu, masyarakat Arab memiliki kebiasaan buruk seperti minum minuman keras, berjudi, berzina, dan menyembah berhala.
Bangsa Arab ini telah menganut berbagai macam agama, akhlak, adat istiadat, dan aturan sebelum Islam datang. Agama Islam bertemu dengan agama jahiliyah.
Pada saat agama Islam ini datang, membawa pembaharuan di berbagai bidang termasuk akhlak, hukum, serta aturan hidup. Kedua kepercayaan ini saling berbenturan dalam waktu yang cukup lama.
Mengenal peradaban bangsa Arab sebelum Islam datang, tidak lengkap bila tidak mempelajari sejarah bangsa Arab.

Agama Bangsa Arab sebelum Islam Datang
Agama orang Arab sebelum Islam adalah Paganisme, Yahudi, dan Kristen. Pagan ini merupakan agama mayoritas mereka. Ratusan berhala berbagai bentuk ditempatkan di sekitar Kaabah. Agama pagan ini bahkan sudah ada sejak sebelum Nabi Ibrahim.
Nenek moyang bangsa Arab awalnya memeluk agama Nabi Ibrahim, namun ajaran ini akhirnya pudar. Mereka lalu membuat patung berhala dari batu, yang menjadi sarana untuk berhubungan dengan Tuhan.
Semangat keagamaan yang amat kuat mendorong bangsa Arab untuk melawan dan memerangi agama Islam saat Islam datang. Namun ibadah dan praktik keagamaan sering tidak dilaksanakan oleh Arab Badui.
Mereka terlalu mencintai kehidupan bebas sehingga mereka pun ingin bebas dari aturan agama. Agama dianggap sebagai pengikat kebebasannya, oleh karenanya mereka sering menyelewengkan aturannya.
Di antara mereka ada yang menyembah bintang-bintang, pohon, batu-batuan, binatang, bahkan menyembah raja mereka. Ini terjadi karena mereka sulit untuk memercayai Tuhan yang abstrak.
Setelah terputus dengan nabi Ibrahim sebagai juru penerang, mereka kembali menyembah berhala. Berhala-berhala itu terbuat dari batu dan didirikan di Kakbah. Agama Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan menyembah berhala ini.
Hal yang membuat bangsa Arab menyembah berhala adalah karena setiap orang yang meninggalkan kota Mekah, selalu mengambil batu dari tanah sekitar Kakbah. Setelah itu mereka merasa dirinya lebih terhormat. Sementara Kakbah tetap memiliki kedudukan yang tinggi.
Seni dan Budaya sebelum Islam Datang

Sementara itu peradaban bangsa Arab sebelum Islam terkait kebudayaan dan seninya, bisa dikatakan sangat berkembang di jazirah Arab.
Bahasa Arab penuh dengan syair dan kosa kata yang indah. Mereka senang berkumpul mengelilingi para penyair yang sangat dihormati untuk mendengarkan syair-syairnya.
Di samping sebagai penyair, orang Arab Jahiliyah sangat mahir berpidato dengan bahasa yang indah. Seperti para penyair, para ahli pidato pada masa itu memiliki derajat yang tinggi.
Negeri Yaman adalah tempat berkembangnya kebudayaan yang sangat penting di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa Arab ini memang termasuk bangsa yang bercita rasa seni yang tinggi.
Tidak semua negeri di Jazirah Arab memiliki kebudayaan Islam. Negeri Iran yang tumbuh dengan budaya Persia, sangat berbeda dengan kebudayaan orang Arab pada umumnya. Demikian juga Mesir dengan kebudayaan zaman Fir’aunnya.
Di wilayah Jazirah Arab yang memiliki budaya Arab adalah Timur Tengah serta sebagian negara Afrika Utara seperti Tunisia, Maroko, Aljazair, dan Libia.
Setelah Islam datang semua kebudayaan di Jazirah Arab mulai saling memengaruhi satu sama lain, sehingga terjadi akulturasi dan asimilasi.
Bisa dikatakan peradaban mereka sudah maju, sehingga bahasa Arab pun menjadi populer layaknya bahasa Eropa saat ini. Bahasa Arab ini sangat berkontribusi terhadap penyebaran agama Islam di seluruh dunia.
Kondisi Sosial Ekonomi Bangsa Arab sebelum Islam Datang
Keadaan sosial ekonomi masyarakat Arab sangat dipengaruhi oleh posisi geografisnya. Sebagian besar wilayah Arab merupakan daerah yang gersang dan tandus, kecuali wilayah Yaman yang terkenal subur dan lokasinya strategis sebagai lalu lintas perdagangan.
Di bagian tengah jazirah Arab – karena merupakan pegunungan yang tandus – Arab Badui berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah lain di pedalaman. Mereka adalah para peternak yang mencari rumput untuk ternak.
Sedangkan suku-suku yang berdiam di wilayah yang subur -terutama di sekitar oase- mengembangkan pertanian dengan menanam buah-buahan dan sayur-sayuran.
Sementara mereka yang tinggal di perkotaan biasanya berdagang. Keahlian mereka dalam perdagangan menentukan kehidupan sosial ekonomi mereka. Mereka bahkan melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam di musim panas dan ke Yaman di musim dingin.
Perekonomian bangsa Arab sebelum Islam datang sangat bergantung pada perdagangan ini dibandingkan peternakan apalagi pertanian. Orang Arab memang dikenal sebagai pedagang yang tangguh hingga bepergian jauh ke negeri tetangga.
Dalam bidang sosial politik, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak memiliki sistem pemerintahan yang mapan dan teratur.
Sebelum datangnya Islam bangsa Arab juga sudah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Orang Babilonia -yang pindah karena diserang Persia ke negeri Arab- membantu perkembangan ilmu astronomi mereka.
Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam dikenal pemberani dalam membela pendirian. Mereka teguh pendiriannya dalam mempertahankan cara hidup yang sudah menjadi kebiasaan.
Namun di masa jahiliyah ini moral dan perilaku mereka memang sangat rusak sehingga disebut kaum jahiliyah.
Penutup

Demikianlah peradaban bangsa Arab sebelum Islam datang yang meliputi  kepercayaan, seni budaya, dan sosial ekonomi mereka.
Zaman yang disebut dengan Jahiliyah, saat mereka membangkang kepada kebenaran dan terus melawannya, sekalipun tahu bahwa itu benar.
Semoga bermanfaat dan menambah khasanah pengetahuan tentang Islam kita.


pengertian hadits


Pengertian hadits
            Hadits atau al-hadits menurut bahasa di sebut dengan al jadid minal asyya(sesuatu yang baru),lawan dari qodim(sesuatu yang dekat).hal ini mencakup sesuatu (perkataan) baik itu banyak ataupun sedikit.hadits juga sering disebut dengan al-khabar (yang berarti berita) yaitu sesuatu yang di percakapkan dan di pindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan ada benar atau salahnya,yang sama maknanya dengan hadits.
                Menurut istilah terminology,para ahli memberikan definisi (ta’rif) yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya.dan adapun ahli hadits mendefinisikan istilah hadits hampir sama dengan sunah (murodif,yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang  bersal dari rosul,baik setelah di angkat ataupun sebelumnya).akan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. Setelah diangkat menjadi nabi ,yang berupa ucapan,perbuatan,dan taqrir beliau.oleh sebab itu,sunah lebih umum daripada hadits sebagaimana hadits berikut:
“segala perkataan nabi,perbuatan,dan hal ihwalnya”
Ada juga yang memberikan pengertian lain mengenai hadits yaitu :
                “sesuatu yang di sandarkan kepada nabi SAW baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir,maupun sifat beliau.”
                Sedangkan ahli ushul hadits adalah segala perkataan rosul,perbuatan dan taqrir beliau,yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.oleh karena itu,menurut ahli ushul yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong hadits, seperti urusan pakaian.
                “segala perkataan,segala perbuatan dan segala taqrir nabi,yang bersangkut-paut dengan hukum.”
                Jadi dari arti hadits diatas dapat di simpulkan yang tidak masuk kedalam hadits adalah sesuatu yang tidak bersangkut-paut dengan hukum,seperti urusan pakaian.
B.Pengertian Sinonim Kata Hadits dan Contoh-contohnya
1.       Sunnah
a.       Pengertian Sunnah
Menurut bahasa,sunnah bermakna jalan yang akan di jalani,terpuji,atau tidak sesuatu tradisi yang sudah di biasakan dan sudah mendarah daging dikalangan masyarakat,sebagaimana Nabi SAW bersabda:
“sesungguhnya kamu akan mengikuti sunnah (perjalanan-perjalanan) orang yang sebelummu,sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta,sehingga sekiranya mereka memasuki sarang dlap (serupa biawak),sungguh kamu memasukinya juga.(H.R. Muslim)
Sunnah menurut istilah muhaddisin (ahli hadits) ialah segala yang di nukilkan dari nabi SAW baik berupa perkataan,perbuatan,maupun berupa taqrir,pengajaran,sifat,kelakuan,perjalan hidup baik yang demikian itu sebelum nabi SAW diangkat menjadi rosul,maupun sesudahnya.
Sunnah menurut pendapat (istilah ushul fiqih) ialah segala yang di nukilkan dari nabi SAW baik perkataan maupun perbuatan,ataupun taqrir yang berkaitan dengan hukum.sebagaimana yang tercantum dalam perkataan sunnah dalam sabda nabi berikut ini:
“sesungguhnya telah saya tinggalkan untukmu dua hal,tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang teguh padanya yakni kitabullah dan sunnah rosulnya.(H.R.Malik)
b.       Contoh-contoh hadits(sunnah)
1)     Contoh hadits ucapan :
“segala amalan itu mengikuti niat (orang yang meniatkan).”(H.R.Al Bukhori dan Muslim)
2)     Contoh hadits perbuatan:
“bersembahyanglah kamu bagaimana kamu melihat aku bersembahyang.”(H.R.Bukhori dan Muslim dari Malik)
3)     Contoh hadits Taqrir

Refleksi dan Tawaran Baru Dalam Filsafat "Integrasi Rasio dan Hati"

  Refleksi dan Tawaran Epistemologi Baru dalam Filsafat "Epistemologi Baru: Integrasi Rasio dan Hati" Oleh : Dewi Badrul Kharirot...